“Inilah jalanku: aku dan orang-orang yang mengikutiku berdakwah kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik” (Yusuf:108).

Selasa, 30 Juli 2013

Meningkatkan Ketaqwaan Kepada Allah

Pemateri : Ust. Ahmad Isrofil

taqwa

Beberapa Ayat Terkait Meningkatkan Ketaqwaan Kepada Allah

Hampir seluruh khatib, mubaligh, penceramah dan para asatidz atau selalu membaca dan menyampaikan firman Allah Ta’ala kepada pendengarnya:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam,” (QS. Ali Imran: 102).
Wahai orang-orang beriman bertakwalah kalian kepada Allah, jalankan seluruh yang diperintahkan Allah dan tinggalkan seluruh yang dilarang Allah dengan sebenar-benarnya, bertakwa dengan sebenarnya takwa, takut dengan benar-benar rasa takut, mentaati Allah dengan sebenarnya ketaatan, Allah Ta’ala menginginkan hamba-Nya serius dalam menjalankan perintah-Nya di muka bumi ini.
Wahai orang-orang yang percaya Allah sebagai Rabb-nya, Islam sebagai diennya, Muhammad Rasulullah sebagai Nabi dan utusan-Nya, taatlah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya ketaatan dan jangan sekali-kali kalian mati kecuali kalian benar-benar telah berserah diri kepada Allah Ta’ala. Mari hafalkan ayat ini dan tanamkan dalam diri.
Ketika Rasulullah membaca ayat :
“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah),(QS. Al An’am: 162-163).
Maka hidup dan mati kita bukan untuk istri, kiyai, ustadz atau tuan guru, kita mencari nafkah untuk anak istri hanya karena Allah, dan semua yang kita kerjakan hanyalah untuk Allah Ta’ala.
Ayat kedua yaitu firman Allah Ta’ala:
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu,” (QS. An Nisaa’: 1).
Ayat di atas ditujukan kepada semua manusia agar mereka bertakwa kepada Allah Ta’ala karena Allah lah yang telah menciptakan mereka. Tapi kenapa manusia tidak mau beribadah, tidak mau taat dan takut pada-Nya? Padahal Allah Ta’ala adalah Pencipta mereka.
“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang dipancarkan, yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan,” (QS. At Thariq: 5-7).
 Allah Ta’ala memberikan perumpamaan berkaitan dengan ciptaan-Nya:
“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak Mengetahui,” (QS. Ghafir/Mu’min: 57).
Kemudian Allah Ta’ala memberikan perumpamaan lain yaitu sekiranya al-Qur’an diturunkan kepada gunung, maka pasti gunung tersebut akan terpecah belah karena takut kepada Allah Ta’ala.
“Kalau sekiranya kami turunkan Al-Qur’an Ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir,” (QS. Al Hasyr: 21).
Lihatlah Fir’aun, dia tidak pernah mau mengakui adanya Tuhan, bahkan dirinya mengaku sebagai tuhan. Tetapi ketika Fir’aun ditenggelamkan Allah Ta’ala, dia mengucapkan, Aku beriman kepada Tuhannya Musa.” Namun sayang, taubatnya telah terlambat. Kemudian Allah Ta’ala menutup ayat ini dengan kalimat, “Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” Bayangkan, misalnya di sebuah masjid dipenuhi dengan CCTV, setiap sesuatu yang dikerjakan di masjid akan terlihat, maka seseorang akan selalu waspada karena ia mengetahui ada CCTV tersebut. Tetapi ketika orang beriman lalu meyakini bahwa Allah Ta’ala mengawasinya meskipun tidak terlihat, ia pasti akan lebih waspada dan takut jika sekiranya berbuat maksiat kepada-Nya.
Orang beriman akan tergugah hatinya, karena suatu hari nanti, Allah Ta’ala akan membongkar seluruh amal perbuatannya. Sebentar lagi ramadhan akan tiba, namun ternyata ada di antara umat muslim belum mempersiapkan untuk menemui tamu agung tersebut. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam jauh-jauh hari sebelum datangnya Ramadhan, beliau telah mempersiapkan diri untuk menyambutnya. Itu disebabkan tidak ada yang bisa memastikan dirinya bertemu dengan Ramadhan. pertanyaanya adalah amal apa yang serius dikerjakan untuk Allah Ta’ala? Mana implementasi dari ayat yang mengatakan bahwa shalat, ibadah dan sembelihanku hanya untuk Allah Ta’ala?
Apakah tidak malu kepada langit dan bumi yang senantisa tunduk kepada Allah Ta’ala? Tidak ada ceritanya langit dan bumi saling beradu, atau gunung yang saling bertabrakan. Mereka bekerja pada tempatnya, tunduk dengan apa yang diperintahkan.
Kemudian Allah Ta’ala juga berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar,” (QS. Al Ahzab: 70-71).
Ketika seseorang mengatakan, “aku rela dengan Allah sebagai Rabb-Ku, Islam sebagai dienku, dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul-Nya”, maka ia telah melakukan salah satu kandungan dari ayat di atas. Maka bicaralah dengan perkataan yang benar, jangan pernah berbohong dan menipu. Ketika seseorang berani berdusta atas nama Allah atau Islam, maka Allah akan membongkar kebrobokan tersebut, menghinakannya di dunia dan memberi balasan kelak di akherat.
Rasulullah juga mengingatkan bahwa sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah yaitu al-Qur’anul karim. Karenanya Ibnu Taimiyah rahimahullahu pernah mengatakan bahwa dikategorikan menghina Rasul adalah orang yang senantiasa disibukkan dengan “kata fulan, kata fulan”, tetapi lupa kepada al-Qur’anul karim dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Rasulullah juga pernah bersabda, Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berbicara yang baik atau diam.” Jadi, apabila seorang muslim belum mengetahui suatu permasalahan maka lebih baik diam daripada berkata-kata namun tidak ada dalilnya. Kalau mau bicara pakailah al-Qur’an dan al-hadits. Lantas apa manfaatnya? Karena akan memperbaiki diri dan amal.
Ketika Rasulullah berada di Makkah, beliau menyampaikan ayat-ayat Allah, menyuruh orang berbuat kebajikan, menyuruh masyarakat sekitar untuk berakhlak baik dan meninggalkan akhlak yang buruk. Akhirnya apa yang terjadi? Allah memperbaiki lingkungan Rasulullah dan kaum muslimin. Akhirnya semua berubah, yang tadinya wanita telanjang bulat mengelilingi Ka’bah menjadi menutup auratnya. Yang tadinya ada patung-patung di sekitar Ka’bah sedikit demi sedikit patung itu hilang. Sebab apa? Sebab mereka mau menjalankan amal-amal yang baik dan perintah-perintah Allah Ta’ala. Kemudian keuntungan manfaat kedua, yaitu di dunia Allah memberikan kebaikan dan besok di akhirat Allah Ta’ala akan mengampuni seluruh dosa mereka. Kemudian ayat ini ditutup dengan, “Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.”
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran),” (QS. An Nisaa’: 27).
Wahai orang-orang beriman, ketahuilah bahwa Allah Ta’ala ingin mengampuni dosa-dosa kalian, akan tetapi orang-orang kafir yang senantiasa mengikuti hawa nafsunya menginginkan orang beriman agar menyimpang dari agama Allah. Bahkan mereka juga diikutkan oleh gaya hidup, gaya berpakaian, tingkah laku maupun gaya makan dan minum mereka. Maka dari itu, bertaubat lah kepada Allah Ta’ala.
Jikalau Allah melihat manusia baik semuanya, maka Ia lebih dahulu melihat malaikat yang semuanya menjalankan perintah Allah. Jikalau manusia melakukan kemaksiatan dan kejahatan, lebih dahulu Allah melihat setan yang suka berbuat jahat dan maksiat. Namun karena manusia berbeda, tidak seperti malaikat dan tidak juga seperti Setan. Maka Allah Ta’ala menginginkan ketika seseorang melakukan maksiat, hendaknya langsung kembali kepada Allah Ta’ala. Jangan pernah minder karena merasa berat dengan ujian Allah Ta’ala, karena Ia tidak akan menguji manusia di luar kemampuannya. Dan siapa yang sungguh-sungguh ingin kembali dan bertemu pada-Nya, maka Allah akan menunjuki-Nya jalan yang benar.
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik,”  (QS. Al Ankabut: 69).
Ketika Allah Ta’ala berfirman:
 “Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana,”  (QS. Al Fath: 7).
Di sana ada tentara langit dan tentara bumi. Jika disaat genting manusia perlu pertolongan dan bantuan, maka mintalah pertolongan kepada Allah Ta’ala yang mempunyai tentara-tentara tersebut. Namun kenapa umat muslim masih takut padahal Allah Ta’ala telah menjanjikan pada kita.
“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan Karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal,” (QS. Thaha: 131).
Al-Qur’an menjawab seluruh persoalan.
 “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas,” (QS. Al Kahfi: 28).
Ayat di atas ditujukan kepada Nabi Muhammad, sementara beliau juga sebagai seorang manusia yang memiliki istri dan membutuhkan makan dan minum, tetapi peringatan yang ada di dalam al-Qur’an dijalankan oleh beliau. Akhirnya apa yang terjadi? Allah muliakan beliau di langit dan bumi. Sehingga sampai hari ini dan esok, umat muslim senantiasa bershalawat kepadanya karena beliau selalu berbicara dengan al-Qur’an.
Kemudian, pembahasan ini akan penulis tutup dengan firman Allah Ta’ala terkait dengan orang-orang yang mengerjakan kejahatan.
“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu,” (QS. Al Jaatsiyah: 21).
Apakah orang-orang yang senantiasa berbuat dosa, baik itu koruptor, pencuri, pezina itu mengira akan disamakan pahala mereka dengan orang-orang yang senantiasa beramal shaleh? Apakah Allah Ta’ala akan menyamakan pahala orang yang senantiasa shalat di malam hari dengan orang yang bermaksiat pada malam hari di dalam Bar? Apakah mereka menyangka seperti itu? Baik ketika mereka hidup di dunia ataupun setelah mereka meninggal. Allah Ta’ala tetap mengatakan bahwa amat buruklah sangkaan mereka tadi. Karena tidak akan sama pahala mereka. Orang yang beriman kepada Allah dan menjalankan amal shaleh, tidak sama dengan orang-orang yang senantiasa berbuat maksiat. Maka dari itu kembalilah kepada Allah dan al-Qur’anul karim.
Allah Ta’ala juga berfirman:
“Katakanlah, “Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang Telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat,” (QS. Al Kahfi: 103-105).
Ingat kembali, bahwa besok di akhirat Allah akan memperlihatkan seluruh rahasia-rahasia kita di dunia. Jikalau detik ini umat muslim terus meneruskan kemaksiatan mereka, maka semakin banyak kemaksiatan yang akan dibongkar Allah Ta’ala. Jikalau mereka telah menyadari firman-firman Allah dalam al-Qur’an dan kembali pada-Nya, insya Allah dengan pertolongan dan izin-Nya, mulai detik ini tinggalkan lah seluruh amal yang tidak baik dan kembali lah kepada Allah.
Wallahu Ta’ala a’lam…

0 komentar:

Poskan Komentar